27 Juni 2012

Gamelan Lovers: Pasport Buat Gamelan

Ada yang menarik di acara SatuIndonesiaGue kemaren, disalah satu booth yan disediain sama panitia terpampang sebuah instalasi yang unik sarat makna dan sarat sama nilai seni. Kalo mau diliat secara sekilas emang rasanya kayak setumpuk barang yang gak berguna, kusam, hitam dan tidak terurus.

Jangan berenti dulu, karena harus melihat lebih jeli tentang instalasi karya mas Penceng ini. Instalasi yang terbuat dari gamelan ini ternyata memiliki makna yang cukup membuat kita yang muda tercengang dan kembali mengingat-ingat warisan budaya Indonesia yaitu Gamelan.

Jangan setelah budaya Indonesia diakui oleh negara lain, kita koar-koar. Mulailah untuk menjaga warisan nenek moyang kita dari saat ini.
Tentang karya instalasinya Mas Penceng yang seorang seniman keramik ini, ingin melihat bagaimana komentar remen-temen muda waktu liat ada gamelan yang dibiarkan gak beraturan, ditambah lagi infus, serta warnanya yang hitam. Ternyata komentarnya cukup menarik dan beragam komentar yang terujar oleh temen-temen muda.

Kalo mau ditarik satu persatu makna dari semuanya gamelan itu butuh support dari temen-temen yang muda. Infus sesuai fungsinya sebagai penambah daya tahan tubuh, dengan begitu infus digambarkan sebagai masyarakat dan pemuda yang bisa "nguri-uri".

Warna hitam itu bukan kesan ngeri yang pengen di tampilin, tapi menurut mas Penceng hitam itu warna yang romantis, sama kayak warisan budaya gamelan yang bila di jadikan satu akan menghasilkan musik yang romantis.

Hmm, tidak hanya infus, gamelan yang tidak tertata serta warna hitam yang menarik. Ada satu lagi yang menarik instalasi tadi di beri sesaji, tapi sesajinya bukan cuma kembang setaman yang harum ada juga burger dan soda. Maksudnya apaan yah?

Dupa, bunga dan sesaji merupakan sebuah bentuk budaya juga, ada juga di Indonesia dan sering dipakai sebagai persembahan sulit untuk dihilangkan. Agar budaya lawas dan pop art mampu untuk bersinergi, maka digabunglah sesaji tadi dengan burger dan soda. Kreatif, tanpa harus meninggalkan tradisi mas Penceng menggabungnya dengan pop art dan lahir-lah hal yang menarik.

Berawal dari "Nggamel" bareng temen-temen di Gayam 16, kecintaannya terus berlanjut bareng temen-temen Gamelan Lovers mas Penceng berkarya dengan ide-idenya yang menarik. Sudah 6 tahun mas Penceng bergelut sama gamelan udah banyak karya-karya instalasinya yang kreatif dan terus membangkitkan anak muda untuk sadar akan warisan budaya.

Gak lucu, kalo anak cucu kita nanti nonton gamelan harus pake pasport
Begitulah kira-kira jawaban mas Penceng ketika ditanya harapan yang ingin terwujud untuk budaya gamelan di Indonesia. Dari sana tergambar bahwa mas Penceng ingin gamelan terus ada dan terus dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tekhnologi boleh maju, tapi yang namanya budaya jangan pernah di kesampingin.

0 comments:

Posting Komentar